Setiap orang memiliki daya alami dan inheren untuk memikirkan apa yang ingin ia pikirkan. Tetapi diperlukan lebih banyak usaha untuk melakukannya, jika ia ingin memikirkan pikiran-pikiran yang tidak diperlihatkan oleh tampilan. Berpikir sesuai tampilan akan sangat mudah. Memikirkan kebenaran terlepas dari apa pun tampilannya adalah usaha yang berat dan membutuhkan lebih banyak tenaga daripada setiap pekerjaan yang harus dilakukan seseorang.
Tidak ada pekerjaan lain yang membuat kebanyakan orang menciut ketika melakukannya selain pikiran yang senantiasa memegang kebenaran itu; ini adalah pekerjaan paling berat. Terutama jika berlawanan dengan tampilan. Setiap tampilan di dunia kasat mata cenderung menghasilkan bentuk sesuai dengannya di dalam benak orang yang mengamatinya. Ini hanya bisa dicegah dengan memegang pikiran kebenaran.
Memandangi tampilan kemiskinan akan menghasilkan bentuk serupa di dalam benak Anda. Sebaiknya, Anda memelihara pikiran kebenaran bahwa tidak ada kemiskinan. Yang ada hanyalah kelimpahan (abundance).
Memang diperlukan kekuatan untuk memikirkan kelimpahan, ketika Anda dikelilingi tampilan kemiskinan dan kekurangan. Tetapi, orang yang bisa mendapatkan kekuatan ini akan memiliki pikiran yang unggul. Ia dapat menaklukan nasib; ia bisa memiliki apa yang diinginkannya.
Kekuatan ini hanya bisa didapatkan dengan memahami fakta dasar di balik semua tampilan: “… tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,…” Jaminan rezeki dari Sang Pemberi rezeki, keserbacukupan, dan kelimpahan. Rezeki, semua pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual.
Quraish Sihab, dalam Tafsir Al Misbach, menjelaskan kata daabbah, yang diterjemahkan menjadi binatang melata, asal katanya adalah bergerak dan melata. Ini mengesankan bahwa rezeki yang dijamin Tuhan itu menuntut setiap daabbah untuk memfungsikan dirinya sebagaimana namanya, yakni bergerak dan merangkak, yakni tidak tinggal diam menanti rezeki tetapi agar mereka harus bergerak untuk menerima rezeki yang disediakan Tuhan itu. Dan untuk itu perlu kekuatan untuk memikirkan bahwa selalu ada kelimpahan, selalu ada jaminan.
Kesulitan untuk selalu bisa melihat kebenaran, apapun tampilannya apakah ia tampil sebagai kemiskinan, tidak terlepas dari adanya block yang menutupi pikiran bawah sadar Anda, hati Anda. Kalau Anda mengalami kesulitan melihat satu kebenaran, apalagi ketika ia punya tampilan kebalikannya, coba periksa adakah block ini menutupi pikiran bawah sadar Anda, hati Anda: Arogan, Serakah, Iri Dengki.
Arogan, perasaan sombong, sering muncul dalam bentuk merasa lebih penting, lebih tahu, lebih benar, lebih taat dari orang lain. Ia membuat kita menutup mata, telinga, dan hati. Kita tak merasa perlu mendengarkan orang lain. Kita sibuk memaksakan pikiran kita pada orang lain.
Akar dari sombong adalah kebiasaan membandingkan diri kita (comparing) dengan orang lain. Membanding-bandingkan akan menjadikan kita terombang-ambing. Kita merasa super kalau berhadapan dengan orang yang ada di bawah kita, tapi ironisnya kita akan merasa rendah diri di saat yang sebaliknya.
Akar serakah adalah scarcity mentality (mentalitas kelangkaan), yaitu perasaan bahwa segala sesuatu sangat terbatas, sehingga berprinsip 'Saya akan mengambil bagian saya dulu sebelum kehabisan.' Mirip dengan teori ekonomi yang kita pelajari di sekolah dulu dengan penuh keyakinan. Kita terpaksa (atau dipaksa?) meyakini demikian, karena kalau tidak demikian nilai teori ekonomi kita nol.
Orang serakah menganggap dunia seperti sepotong kue, ''Kalau Anda mendapatkan potongan besar, sisanya tinggal sedikit untuk saya. Karena itu, saya akan mengambil dulu, saya akan mengambil lebih banyak.” Dan lenyap juga pikiran-pikiran memberi, berbagi, “Kalau saya memberi kepada Anda, berbagi dengan Anda, milik saya berkurang.”
Semua persoalan yang kita hadapi di negari ini, Korupsi, Kolusi, Nepotisme, sebenarnya berakar dari mental kelangkan, dari keserakahan, keinginan menguasai dan tiadanya keinginan untuk berbagi dengan pihak lain.
Akar dari iri-dengki ini adalah kecenderungan kita untuk selalu bersaing (competing) dengan orang lain. Kita memandang dunia sebagai medan pertempuran. Kita memandang setiap orang sebagai pesaing kita. Karena itu kita berjuang mengalahkan mereka. Kita ingin lebih pandai, lebih hebat, dan lebih populer. Kita berduka melihat orang lain sukses. Kita sedih melihat kawan naik pangkat. Kita pusing melihat tetangga membeli mobil baru. Orang yang bermental seperti ini tak peduli dengan prestasinya sendiri. Yang penting, ia lebih tinggi dari orang lain.
Akhirnya, memang diperlukan kekuatan besar untuk memikirkan kelimpahan, apalagi ketika Anda dikelilingi tampilan kemiskinan dan kekurangan. Sedemikian kuatnya block-bclok itu menutup hati kita, pikiran bawah sadar kita, sehingga kita butuh kekuatan sedemikian besar untuk bisa melihat kebenaran itu, maka di penghujung-penghujung malam kita diajarkan untuk senantiasa memohonkannya: “Ya Allah tunjukkanlah kepadaku yang benar itu benar, dan berilah kekuatan untuk mengikutinya….”
Sebagaimana doa itu, setelah mampu mengetahui yang benar, Anda juga harus menghimpun kekuatan berikutnya untuk mengikutinya.
Lihat kebenaran itu kemudian lakukanlah!
Friday, March 20, 2009
Selalu lihat yang benar, sekalipun ia tampil sebaliknya! Lalu ikutilah.
Wednesday, March 18, 2009
Ilmu Sakti Sasra Birawa
Beberapa hari belakangan saya sedang keranjingan membaca kisah Mahesa Jenar, seorang prajurit pengawal raja Kerajaan Demak, bergelar Rangga Tohjaya, dalam cerita Naga Sasra Sabuk Inten. Ini karena beberapa malam terakhir sering berbincang-bincang serius dengan kawan-kawan sampai larut. Dan kalau mata sudah pada mulai redup, untuk mengusir kantuk meloncatlah macam-macam cerita kesana-kemari. Salah duanya cerita tentang Saridin, orang sakti dari Pati, dan Mahesa Jenar dalam Naga Sasra Sabuk Inten. Saya jadi tertarik untuk membaca ceritanya.
Belum selesai saya membacanya. Panjang sekali, 171 episode. Memukau, sampai-sampai saya terhanyut mengikuti cerita ini. Di era 80-an cerita ini sudah pernah saya ikuti. Lewat drama radio yang memang ngetop waktu itu. Meskipun pernah mengikuti sebelumnya, membaca cerita ini tetap menghanyutkan.
Sebenarnya romantisme cinta Mahesa Jenar terhadap Rara Wilis mampu membawa perasaan saya, seolah-olah saya selalu membersamai Mahesa Jenar. Tapi saya tidak ingin menulisnya di sini, mungkin di tempat lain.
Kekaguman saya sebenarnya bukan pada Mahesa Jenar, tapi pada penulisnya, SH Mintarja, pada kemampuannya mengemas falsafah dengan cerita yang bisa melayangkan imajinasi saya kesana-kemari. Ilmu sakti Mahesa Jenar, Sasra Birawa, yang diperoleh dari sang Guru Ki Ageng Pengging Sepuh, mampu meluluhlantakkan musuh-musuhnya. Sebongkah batu besar hancur berantakan dengan pukulan ilmu sakti Sasra Birawa ini.
Dengan mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi, dan kemudian menghantam lawannya, apapun yang dikena akan luluh lantak, hancur berantakan. Dengan posisi tubuh seperti itu ia menyatukan seluruh energi ke telapak tangannya: jiwa, pikiran, dan energi fisiknya.
Keseharian kita sebenarnya juga selalu dihadapkan pada ‘musuh’ seperti yang dihadapi Mahesa Jenar. Dan kitapun menghadapinya dengan modal yang sama, jiwa kita, pikiran kita, dan fisik kita. Sayang memang, lebih banyak orang yang menghadapi kehidupan ini tidak dengan menggabungkan tiga kekuatan ini sekaligus.
Bukannya kita yang memenangkan pertempuran, seringkali kita yang dikalahkan. Hantaman kehidupan seringkali menjadikan kita kalang kabut. Kehilangan fokus. Kehilangan konsentrasi. Bukannya menyatukan tiga kekuatan sekaligus, jiwa, pikiran, dan fisik, justru kita menghadapi hantaman kehidupan dengan menceraiberaikan ketiganya. Padahal kekuatan itu akan menjadi luar biasa dengan menyatukan ketiganya. Seperti sinar matahari yang difokuskan dengan loup (kaca pembesar) mampu membakar kertas yang tepat difokusnya.
Saya pernah membaca satu kalimat dari orang yang luar biasa, Hasan Al Banna, seorang tokoh pergerakan Islam modern dari Mesir. Beliau mengatakan dalam 20 Prinsipnya, “Keyakinan adalah pondasi segala aktivitas, dan aktivitas hati lebih penting dari dari aktivitas fisik. Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.”
Adakah Anda telah menyatukan ketiga sumber kekuatan itu sekaligus dalam setiap action dan aktivitas Anda? Kalau belum mari kita coba, satukan ketiganya di tangan Anda. Rasakan bedanya!