Sudah beberapa hari ini Makassar, kota di mana saya mukim, diguyur hujan. Lumayan lebat. Kadang seharian matahari tidak kelihatan. Udara dingin. Sering mengganggu aktivitas…, berangkat ngantornya jadi telat. Apalagi memang sudah ada bakat-bakat malas ngantor. Jadi klop. Atau masalah klasik pada musim hujan: banjir. Karena got-gotnya tidak lancar. Entah karena mampet atau konstruksi gotnya yang tidak memungkinkan air mengalir.
Beberapa waktu sebelumnya situasinya berbeda 180 derajat. Panas. Kering. Debu yang cepat menebal di lantai depan rumah saya. Apalagi saya agak malas nyapu lantai. Mungkin dalam sehari dua hari ketebalan debu sudah bisa diukur dengan penggaris.
Belum lagi masalah klasik dari musim kemarau: kesulitan air bersih. Apalagi posisi rumah saya memang agak tinggi. Sehingga kalau musim kemarau agak berkepanjangan, rumah saya termasuk yang mendapat giliran awal tidak mendapat jatah air PDAM. Pasokan air melalui ledeng tersendat-sendat dan pada gilirannya macet. Untungnya saya tidak perlu membawa jerigen ke kantor PDAM terdekat ikutan ngantri ambil air minum. Karena dirumah saya ada sumur pompa. Tapi di musim kemarau kadang sumur pompa saya juga tidak sanggup lagi mengeluarkan air. Kering.
Tapi saya tidak sedang ingin membahas kesusahan musim hujan dan musim kemarau. Nanti ujung-ujungnya menjadi tidak bersyukur. Padahal saya sedang belajar menjadi orang yang mudah bersyukur.
Saya ingin membahas atap rumah saya yang bocor. Lho..!
Kalau hujan berkepanjangan begini, di plafon rumah saya air menetes di beberapa titik. Lagi, saya tidak ingin membahas tidak enaknya rumah bocor. Agar saya tidak menjadi orang yang tidak bersyukur.
Ketakjuban saya justru pada air yang jatuh lewat plafon atap saya yang bocor itu. Atap rumah saya yang memang sudah berumur tembus oleh kekuatan air. Padahal air itu hanya mengalir. Tidak memaksa membocorkan atap rumah. Tetapi karena ia senantiasa mengalir dan terus mengalir setiap musim hujan, maka akhirnya ia menembus dan membocorkan atap rumah. Itu kekuatan air yang senantiasa berada pada fitrahnya.
Ini mirip-mirip dengan rumput yang tumbuh di depan rumah saya. Ketika sedang kambuh rasa malas saya untuk memotong rumput, rumput yang kelihatan lemah dan tumbuh apa adanya, tanpa memaksakan diri mampu membuat plesteran semen halaman rumah saya retak-retak dan tumbuh dengan gagahnya. Itu kekuatan rumput yang hidup pada fitrahnya.
Saya justru terheran-heran dengan diri saya dan juga pada kebanyakan manusia. Makhluk yang dikaruniai kelebihan dari makhluk lain, tetapi justru kelebihan yang diberikan itu tidak membuatnya lebih unggul dan lebih baik dari air dan rumput. Kelebihannya, hati dan akal, yang ada padanya justru membuatnya semakin kerdil. Hati dan akalnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi justru menghacurkan dirinya.
Berapa banyak manusia yang berhenti berkembang karena tidak berfungsinya akal sebagaimana mestinya: khawatir akan masa depan, takut gagal, merasa tidak mampu karena banyak kebelumberhasilan dalam track record-nya, tidak sanggup menerima kritikan, …dll.
Manusia diciptakan untuk sukses, tetapi ia memprogram dirinya untuk gagal.
Monday, December 22, 2008
HUJAN
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment