Wednesday, March 18, 2009

Ilmu Sakti Sasra Birawa

Beberapa hari belakangan saya sedang keranjingan membaca kisah Mahesa Jenar, seorang prajurit pengawal raja Kerajaan Demak, bergelar Rangga Tohjaya, dalam cerita Naga Sasra Sabuk Inten. Ini karena beberapa malam terakhir sering berbincang-bincang serius dengan kawan-kawan sampai larut. Dan kalau mata sudah pada mulai redup, untuk mengusir kantuk meloncatlah macam-macam cerita kesana-kemari. Salah duanya cerita tentang Saridin, orang sakti dari Pati, dan Mahesa Jenar dalam Naga Sasra Sabuk Inten. Saya jadi tertarik untuk membaca ceritanya.

Belum selesai saya membacanya. Panjang sekali, 171 episode. Memukau, sampai-sampai saya terhanyut mengikuti cerita ini. Di era 80-an cerita ini sudah pernah saya ikuti. Lewat drama radio yang memang ngetop waktu itu. Meskipun pernah mengikuti sebelumnya, membaca cerita ini tetap menghanyutkan.

Sebenarnya romantisme cinta Mahesa Jenar terhadap Rara Wilis mampu membawa perasaan saya, seolah-olah saya selalu membersamai Mahesa Jenar. Tapi saya tidak ingin menulisnya di sini, mungkin di tempat lain.

Kekaguman saya sebenarnya bukan pada Mahesa Jenar, tapi pada penulisnya, SH Mintarja, pada kemampuannya mengemas falsafah dengan cerita yang bisa melayangkan imajinasi saya kesana-kemari. Ilmu sakti Mahesa Jenar, Sasra Birawa, yang diperoleh dari sang Guru Ki Ageng Pengging Sepuh, mampu meluluhlantakkan musuh-musuhnya. Sebongkah batu besar hancur berantakan dengan pukulan ilmu sakti Sasra Birawa ini.

Dengan mengangkat satu kakinya yang ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi, dan kemudian menghantam lawannya, apapun yang dikena akan luluh lantak, hancur berantakan. Dengan posisi tubuh seperti itu ia menyatukan seluruh energi ke telapak tangannya: jiwa, pikiran, dan energi fisiknya.

Keseharian kita sebenarnya juga selalu dihadapkan pada ‘musuh’ seperti yang dihadapi Mahesa Jenar. Dan kitapun menghadapinya dengan modal yang sama, jiwa kita, pikiran kita, dan fisik kita. Sayang memang, lebih banyak orang yang menghadapi kehidupan ini tidak dengan menggabungkan tiga kekuatan ini sekaligus.

Bukannya kita yang memenangkan pertempuran, seringkali kita yang dikalahkan. Hantaman kehidupan seringkali menjadikan kita kalang kabut. Kehilangan fokus. Kehilangan konsentrasi. Bukannya menyatukan tiga kekuatan sekaligus, jiwa, pikiran, dan fisik, justru kita menghadapi hantaman kehidupan dengan menceraiberaikan ketiganya. Padahal kekuatan itu akan menjadi luar biasa dengan menyatukan ketiganya. Seperti sinar matahari yang difokuskan dengan loup (kaca pembesar) mampu membakar kertas yang tepat difokusnya.

Saya pernah membaca satu kalimat dari orang yang luar biasa, Hasan Al Banna, seorang tokoh pergerakan Islam modern dari Mesir. Beliau mengatakan dalam 20 Prinsipnya, “Keyakinan adalah pondasi segala aktivitas, dan aktivitas hati lebih penting dari dari aktivitas fisik. Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda.”

Adakah Anda telah menyatukan ketiga sumber kekuatan itu sekaligus dalam setiap action dan aktivitas Anda? Kalau belum mari kita coba, satukan ketiganya di tangan Anda. Rasakan bedanya!

3 comments:

Nurudin said...

tulisan yang memukau. sedahsyat sosro birowo

redy siregar dari negeri cordova said...

Mantaaap infone lur...🙏

Unknown said...

Sosro Birowo hanyalah sebuah perlambang dari proses usaha dan ikhtiar manusia untuk mengalahkan segala godaan maupun serangan syaeton.