Friday, April 11, 2008

Yang Mana Rumus Sukses Anda?

Saya menemukan beberapa rumus sukses dari sumber-sumber yang saya baca. Terus terang saya belum bisa menyimpulkan apakah semua rumus tersebut betul-betul bekerja, mengantarkan kita pada apa yang disebut sukses itu.

Soalnya saya belum mencoba satu per satu rumus-rumus itu. He… he…

Kalau anda nggak keberatan, boleh coba semuanya dan kasih tahu ke saya mana rumus yang bekerja untuk anda.

Pertama, Rhonda Byrne dalam buku dan filmnya The Secret, menulis tiga rumus sukses, yaitu Ask, Believe, dan Receive.

Kedua, Pak Adi W. Gunawan menulis ada lima langkah untuk mencapai apa yang anda inginkan: Impian, Yakin, Syukur, Pasrah, dan Doa.



Langkah 1, Impian. Anda harus tahu apa yang anda inginkan, bukan apa yang tidak anda inginkan. Dan anda harus membuat impian yang bersifat personal dan betul-betul bermakna bagi anda.

Langkah 2, Yakin. Anda harus yakin bahwa anda bisa mencapai impian anda. Masalahnya adalah, banyak orang yang tidak bisa dan tidak berani bermimpi. Dan tidak yakin bahwa ia bisa mencapai impiannya.

Langkah 3, Syukur. Bersyukurlah atas apa yang telah Anda yakin akan mencapainya. Ini akan meningkatkan level vibrasi energi anda.

Langkah 4, Pasrah. Take Action, tetapi jangan melekat pada hasil. Anda bekerja keras, cerdas, mawas dan waras, tetapi serahkan hasilnya hanya pada Yang Kuasa. Tawakkal, gitu.

Langkah 5, Doa. Sampaikan permintaan dan impian anda kepada Yang Maha Mengabulkan. Langkah ini menyertai seluruh langkah sejak awal prosesnya.

Ketiga, rumusnya Pak Roni, Founder TDA: RBDSAP. Kependekan dari Reason, Beliefs, Dreams, Strategy, Action dan Pray.

Awalnya rumus Pak Roni dan komunitas TDA cuma satu, Action. Take Action Now, begitu slogannya. Tapi akhirnya, berdarah-darah.

Makanya dibutuhkan yang lain selain action, yaitu Strategy. Jadilah rumus SA.

Ketika bertemu dengan buku Adam Khoo, Master Your Mind, Design Your Destiny, pak Roni melengkapi lagi rumusnya menjadi BDSA atau Beliefs, Dream, Strategy dan Action.

Belakangan, ternyata BDSA saja tidak cukup. BDSA sudah digunakan, tapi kok masih nggak ngaruh ya? Maka ditambah R atau Reason atau alasan yang kuat. Mereka ada yang kepepet mau di PHK. Ada yang nggak betah tinggal di rumah mertua dan sebagainya, begitu tulis pak Roni.

Dan, terakhir adalah P atau Pray. Jadilah rumus RBDSAP itu.

Anda mau coba yang mana? Silahkan pilih, atau mau coba semuanya? Kasih tahu saya kalau sudah berhasil. OK?

[+/-] Selengkapnya...

Pendidikan Bisnis Network Marketing

Saya baru membaca kembali buku Robert T. Kiyosaki, The Business School for People Who Like Helping People. Ya, membaca kembali. Buku ini sudah pernah saya baca, tahun 2002 lalu. Sudah cukup lama.

Buku ini berbicara mengenai network marketing.

Secara ‘kebetulan’ seorang kawan memperkenalkan sebuah perusahaan network marketing kepada saya. Dan meyakinkan saya tentang sistem bisnisnya yang bagus. Jadilah saya tertarik belajar lebih lanjut sistem bisnis ini dan segera ingatan saya kembali pada buku yang pernah saya baca ini tetapi belum saya praktikan. Padahal applicated knowledge is power.

Mengapa Anda merekomendasikan binsis itu? Demikian judul bab pertama buku ini. Jawaban pertanyan tersebut dijelaskan pada bab-bab selanjutnya, alasan mengapa Kiyosaki merekomendasi bisnis ini.



Bukan uangnya. Bukan produknya. Tetapi, rancangan pendidikannya. Rancangan pendidikan bisnis yang mengubah hidup. Pendidikan yang cukup kuat untuk mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Ini alasan pertamanya.

Salah satu persoalan sekolah bisnis tradisional adalah banyak guru tidak mempunyai pengalaman bisnis nyata yang hidup. Dalam network marketing, orang-orang di puncak yang mengajar harus sukses dalam dunia nyata, atau mereka tidak akan berada di puncak. Dalam sekolah bisnis tradisional, Anda tidak perlu sukses dalam dunia bisnis nyata untuk mengajar bisnis.

Beberapa mata pelajaran bisnis kehidupan nyata yang diajarkan network marketing: sikap terhadap kesuksesan; keahlian memimpin; keahlian berkomunikasi; keahlian manusia; mengatasi ketakutan pribadi, keraguan, dan tidak percaya diri; mengatasi rasa takut terhadap penolakan; keahlian manajemen uang; keahlian berinvestasi; keahlian pertanggungjawaban; keahlian manajemen waktu; penentuan tujuan/cita-cita; dan sistematisasi.

Orang-orang sukses dalam network marketing mengembangkan keahlian-keahlian ini dari program pelatihan network marketing.

Apakah pendidikan yang mengubah hidup itu?

Pendidikan tradisional terutama fokus pada pendidikan mental; kecapakan membaca, menulis dan berhitung. Semua penting. Tetapi, bagi Kiyosaki, cara pendidikan tradisional mempengaruhi emosional, fisik, dan spiritual tidak disukai.

Salah satu keluhan terhadap pendidikan tradisional dari sisi emosional adalah bahwa ia membuat orang terus-menerus merasa takut. Lebih spesifik takut melakukan kesalahan, yang mengarah kepada takut gagal. Takut gagal dijadikan motivasi, “Kalau kamu tidak mendapat nilai bagus, kamu tidak akan mendapat pekerjaan dengan gaji besar.” Di pendidikan tradisional kita tidak diperbolehkan melakukan kesalahan. Melakukan kesalahan adalah dosa dan dihukum. Masalahnya, dalam dunia nyata orang-orang maju adalah orang yang melakukan kesalahan terbanyak dan belajar dari kesalahan itu. Melakukan kesalahan adalah cara kita belajar. Kita belajar naik sepeda dengan jatuh dan naik lagi, jatuh dan naik lagi.

Dari sisi pendidikan fisik, orang yang takut melakukan kesalahan tidak belajar banyak, karena mereka tidak banyak melakukan. Kalau anda telah dikondisikan untuk mengetahui semua jawaban yang benar dan tidak melakukan kesalahan, besar kemungkinan proses pendidikan anda akan terhalang.

Network marketing mendorong pembelajaran fisik sebagaimana mendorong pembelajaran mental. Mendorong anda pergi keluar dan menghadapi ketakutan anda dengan bertindak, melakukan kesalahan, belajar dari kesalahan, dan menjadi lebih kuat secara mental, secara emosional, dan secara fisik dari prosesnya.

Pendidikan tradisional mendorong anda untuk mempelajari fakta dan kemudian secara emosional mengajar anda untuk takut melakukan kesalahan, yang menghalangi anda secara fisik. Hidup dalam suasana takut tidak sehat, secara mental, emosional, fisik, atau finansial.

“Kalau ada tiga kucing duduk di atas pagar, dan dua di antaranya memutuskan untuk melompat turun, berapa kucing sisanya?”

“Masih ada tiga kucing di atas pagar,” jawabnya. Alasannya adalah, memutuskan untuk melompat tidak berarti benar-benar melompat secara fisik.

Itu alasan pertamanya, alasan yang perlu dipertimbangkan untuk belajar bisnis dan memilih bisnis network marketing.

Jadi kalau anda memutuskan melompat dari pagar di mana anda duduk, segera melompatlah. Atau anda tetap berada di atas pagar selamanya.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, April 9, 2008

Fokus pada Tujuan

Tulisan berikut saya ambil dari blognya Pak Nukman Luthfie, www.sudutpandang.com. Pernahkah Anda mengalami seperti yang ditulis Pak Nukman?

Saya pernah... he... he...
Seriiing... hua ...ha... ha...

Yuk berhenti... dan kembali Fokus pada Tujuan.
Silakan dinikmati,

Fokus pada Tujuan

Pernahkah kita merasa kebanyakan pekerjaan rumah yang tidak rampung-rampung juga? Pernahkah kita bangun tidur dengan beban harus mengerjakan ini itu yang seharusnya dikerjakan kemarin-kemarin?

Saya pernah.

Pernahkah kita merasa hari-hari kita tidak produktif? Pernahkah kita merasakan hari berlalu begitu saja dan tidak ada satu pun hal yang selesai kita kerjakan padahal itu hal yang amat penting?

Saya juga pernah.

Pernahkah kita merasa bosan, jenuh dan kemudian menonton teve berjam-jam?

Tentu saya pernah.

Pernahkah kita melihat begitu banyak peluang dan ingin merengkuh semuanya — dan pada akhirnya yang terengkuh tak seberapa — atau bahkan sama sekali tak ada yang terengkuh?

Kebetulan saya belum pernah :)

Dan saya yakin, kita semua pernah mengalami hal-hal seperti itu. Tentu dengan kadar masing-masing. Ada yang memang punya budaya menunda pekerjaan sehingga repot sendiri setiap harinya. Ada yang memang “karena kita manusia” maka kita juga punya peluang sekecil apapun untuk jenuh, lelah dan akhirnya tidak produktif.

Sebenarnya kebiasaan buruk (atau kelemahan) semacam itu bisa dipangkas jika kita memiliki sikap untuk fokus pada tujuan.

Kalau kita ingin menjadi karyawan terbaik misalnya, dan kita fokus betul ke tujuan itu. Dengan fokus yang jelas itu, maka dengan sendirinya kita membangun habit menuju ke sasaran.

Kalau mau jadi entrepreneur, jagalah terus menerus fokus ke sana, sebab kalau kita kehilangan fokus ke tujuan itu, sampai matipun kita belum tentu jadi pengusaha.

Kalau mau berhenti merokok, fokuslah pada tujuan itu. Sekali kehilangan fokus, tanpa sadar kita akan menghisap asap beracun itu lagi meski sudah pernah berhenti.

Only through focus can you do world-class things, no matter how capable you are. Bill Gates (Fortune, July 8, 2002)

[+/-] Selengkapnya...