Jangan Anda membayangkan jembatannya punya kaki. Ini hanya pengalaman saya ketika saya sedang melaksanakan tugas kantor yang mengharuskan saya masuk ke hutan dan untuk sampai ke sana harus melewati sebuah jembatan. Jembatan kecil yang terbuat dari dua batang bambu yang diikat dan disatukan dengan kawat baja. Di sebelah kiri dan kanannya ada tali pegangan yang juga terbuat dari baja. Jembatan ini melintasi sungai yang cukup lebar, k.l. 50 meter, dengan aliran air yang lumayan deras.
Karena hanya terdiri dari dua batang bambu, ketika kami melintas di atas jembatan, mau tidak mau jembatan ini bergoyang. Kadang kiri – kanan, kadang atas – bawah. Ditambah hembusan angin yang cukup kencang yang mendorong badan menjadi tidak seimbang. Karenanya agar tidak terjatuh, mata jadi tertuju ke dua buah bambu yang jadi pijakan itu.
Tapi celaka, ketika kepala ini menunduk, bukannya bambu yang terlihat, tetapi fokus mata justru tertuju ke air sungai yang mengalir deras ke arah kanan saya. Dan goyangan jembatan semakin keras karena kaki tambah gemetaran. Dan jembatan yang semula diam, tiba-tiba mulai bergerak. Jembatan itu berjalan ke arah kiri. Semakin lama semakin cepat, secepat derasnya aliran sungai….
Jadilah jembatannya yang berjalan bukan airnya….dalam pandangan mata dan perasaan saya. Untung saya segera sadar sebelum terjatuh: yang berjalan airnya bukan jembatannya. Saya angkat padangan ke arah langit. Langit diam, tidak bergerak. Dan dengan segera jembatan menjadi diam…
Ternyata dalam keseharian sering saya jumpai pengalaman mirip jembatan berjalan ini. Dalam upaya berkontribusi dan berprestasi dalam kehidupan ini seringkali salah dalam melihat. Salah dalam memandang kejadian, peristiwa, fakta,…. Salah dalam memberikan arti dan makna. Dan akhirnya salah dalam mengambil tindakan…
Juga dalam upaya membangun bisnis. Dikatakan bahwa sembilan (belas?) pintu rezeki datang melalui bisnis dan yang satunya adalah menjadi pegawai. Tetapi ternyata banyak orang yang tidak bisa (atau tidak berani?) melihat dengan cara pandang ini. Dan tidak pernah kesampaian untuk memulai bisnis, dan tetap mencari rezeki dengan menjadi pegawai.
Mengapa? Karena yang terlihat adalah besarnya risiko yang menutupi besarnya rizqi yang datang lewat jalan bisnis itu.
Soo..jangan percaya jembatannya berjalan. Tetap semangat. Take Double Action.
Tuesday, December 23, 2008
JEMBATAN BERJALAN
Monday, December 22, 2008
HUJAN
Sudah beberapa hari ini Makassar, kota di mana saya mukim, diguyur hujan. Lumayan lebat. Kadang seharian matahari tidak kelihatan. Udara dingin. Sering mengganggu aktivitas…, berangkat ngantornya jadi telat. Apalagi memang sudah ada bakat-bakat malas ngantor. Jadi klop. Atau masalah klasik pada musim hujan: banjir. Karena got-gotnya tidak lancar. Entah karena mampet atau konstruksi gotnya yang tidak memungkinkan air mengalir.
Beberapa waktu sebelumnya situasinya berbeda 180 derajat. Panas. Kering. Debu yang cepat menebal di lantai depan rumah saya. Apalagi saya agak malas nyapu lantai. Mungkin dalam sehari dua hari ketebalan debu sudah bisa diukur dengan penggaris.
Belum lagi masalah klasik dari musim kemarau: kesulitan air bersih. Apalagi posisi rumah saya memang agak tinggi. Sehingga kalau musim kemarau agak berkepanjangan, rumah saya termasuk yang mendapat giliran awal tidak mendapat jatah air PDAM. Pasokan air melalui ledeng tersendat-sendat dan pada gilirannya macet. Untungnya saya tidak perlu membawa jerigen ke kantor PDAM terdekat ikutan ngantri ambil air minum. Karena dirumah saya ada sumur pompa. Tapi di musim kemarau kadang sumur pompa saya juga tidak sanggup lagi mengeluarkan air. Kering.
Tapi saya tidak sedang ingin membahas kesusahan musim hujan dan musim kemarau. Nanti ujung-ujungnya menjadi tidak bersyukur. Padahal saya sedang belajar menjadi orang yang mudah bersyukur.
Saya ingin membahas atap rumah saya yang bocor. Lho..!
Kalau hujan berkepanjangan begini, di plafon rumah saya air menetes di beberapa titik. Lagi, saya tidak ingin membahas tidak enaknya rumah bocor. Agar saya tidak menjadi orang yang tidak bersyukur.
Ketakjuban saya justru pada air yang jatuh lewat plafon atap saya yang bocor itu. Atap rumah saya yang memang sudah berumur tembus oleh kekuatan air. Padahal air itu hanya mengalir. Tidak memaksa membocorkan atap rumah. Tetapi karena ia senantiasa mengalir dan terus mengalir setiap musim hujan, maka akhirnya ia menembus dan membocorkan atap rumah. Itu kekuatan air yang senantiasa berada pada fitrahnya.
Ini mirip-mirip dengan rumput yang tumbuh di depan rumah saya. Ketika sedang kambuh rasa malas saya untuk memotong rumput, rumput yang kelihatan lemah dan tumbuh apa adanya, tanpa memaksakan diri mampu membuat plesteran semen halaman rumah saya retak-retak dan tumbuh dengan gagahnya. Itu kekuatan rumput yang hidup pada fitrahnya.
Saya justru terheran-heran dengan diri saya dan juga pada kebanyakan manusia. Makhluk yang dikaruniai kelebihan dari makhluk lain, tetapi justru kelebihan yang diberikan itu tidak membuatnya lebih unggul dan lebih baik dari air dan rumput. Kelebihannya, hati dan akal, yang ada padanya justru membuatnya semakin kerdil. Hati dan akalnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi justru menghacurkan dirinya.
Berapa banyak manusia yang berhenti berkembang karena tidak berfungsinya akal sebagaimana mestinya: khawatir akan masa depan, takut gagal, merasa tidak mampu karena banyak kebelumberhasilan dalam track record-nya, tidak sanggup menerima kritikan, …dll.
Manusia diciptakan untuk sukses, tetapi ia memprogram dirinya untuk gagal.