Sunday, January 25, 2009

Zuhud dan Obsesi

Membaca tulisannya Mas Iwan membuat saya semakin tahu apa itu makna zuhud. Dan tentu saya juga punya keinginan dan kemauan menjadi orang zuhud seperti yang ditulis itu. Punya sepuluh kios(atau sepuluh outlet atau sepuluh perusahaan atau sepuluh pintu cash inflow… atau lebih banyak dari itu) dan menjadi orang yang lebih baik ibadahnya dari tukang gorengan itu.

Tetapi masalahnya adalah pengetahuan saya tentang kata zuhud itu tidak selalu berbanding lurus dengan kepahaman saya. Mungkin saya termasuk dalam golongan orang-orang yang DDR. Ber-Daya Dong Rendah.. Telmi.

Dan lagi kepahaman saya ternyata juga tidak otomatis menjadikan saya zuhud.

Menjadikan merasa cukup dengan apa yang ada merupakan bagian dari zuhud. Ini adalah aktivitas hati yang senantiasa mengiringi. Apapun situasi dan kondisi yang melingkupi suasana hati tetap sama. Apakah sedang punya hanya sekepal nasi untuk anak dan istri atau sedang memiliki segenggam berlian, suasana hati satu: merasa cukup.

Nah itu yang saya masih berjuang keras mewujudkannya. Kalau pas punya segenggam berlian sih rasanya saya senang, meskipun saya juga tidak menjamin apakah saya bisa merasa cukup. Apalagi kalau hanya punya sekepal nasi. Waduh. Saya lebih tidak menjamin bahwa saya tidak merasa kurang.

Kedua, menggabungkan zuhud dan obsesi. Ini dua di antara hal yang seharusnya berkumpul dalam diri. Tetapi menggabungkan zuhud dan obsesi adalah pekerjaan sulit berikutnya setelah menjadi zuhud itu sendiri.

Biasanya saya merasakan kesulitan ketika berurusan dengan zuhud dan obsesi ini. Kalau saya sedang menguatkan upaya menjadi seorang yang zuhud saya menjadi orang yang tidak terlalu obsesif. Keinginan memiliki sepuluh pintu cash inflow saya menyurut.

Tetapi ketika obsesi saya menguat, punya keinginan yang seolah mau meloncat dari dada, cita-cita setinggi langit, punya target-target besar, saya menjadi orang yang amat bernafsu. Dan itu kemudian menyeret zuhud saya kepada keserakahan. Yang sedikit dianggap tidak ada, yang banyak dianggap kurang.

Dalam upaya pencarian yang panjang itu saya mulai menemukan titik terang. Saya mulai melihat antara zuhud dan obsesi justru punya hubungan yang sangat kuat. Kezuhudan justru mendorong saya semakin cepat sampai kepada obsesi-obsesi saya.

“Rahasia untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan adalah dengan menghargai sepenuhnya saat ini. Kalau kalian mensyukuri saat ini, apa pun yang selanjutnya akan kalian alami akan muncul dari saat ini. Kalian akan terinspirasi untuk mengambil sebuah tindakan. Itu akan membawa kalian ke atas. Tapi, satu-satunya cara untuk naik ke titik yang lebih tinggi adalah dengan hidup di titik ini dengan penuh rasa syukur,” tulis Joe Vitale dalam bukunya The Key.

Ketika menggabungkan zuhud dan obsesi saya suka kalimat favoritnya Joe Vitale ini: “Saya sepenuhnya puas, saya hanya ingin lebih banyak.”

Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

[+/-] Selengkapnya...

Saturday, January 24, 2009

NABO, NA.., NA.., NA...

Saya merasa di-ece dengan komentarnya saudara saya Bang Izz. Karena, saya lihat blog-nya, weleh-weleh, tulisannya banyak banget dan apik men. Selalu update. Padahal baru beberapa bulan. Sementara blog-ku ini sudah lama. Tetapi sudah lama juga nggak di-update.

Saya baru update kembali hari Jumat kemarin. Itu juga karena malam hari sebelumnya saudara saya Mas Iwan meng-sms saya untuk nge-blog untuk saling menasehati . Barulah saya tergerak untuk posting kembali.

Anda tahu kenapa postingan ke blog ini terputus[-putus]? Ini dikarenakan redaktur terlalu ketat memberikan persayaratan terhadap tulisan yang bisa di-publish. He..he..

Saya yakin Anda tahu maksud saya: terlalu banyak alasan yang berputar-putar di kepala saya sehingga sekedar untuk meng-klik kata SEND saja sulit. Jadinya begitu, blog ini miskin tulisan. Nggak seperti blognya Bang Izz.

Ini di antara persayaratan dari redaktur itu.

Pertama, tidak boleh bikin malu. Lha, ini persayaratan berat bagi saya.

Wong tulisan jelek gini kok mau di-posting. Malu-maluin saja,” kata redaktur. Biasanya kalau redaktur bilang begitu saya nggak berani nulis lagi. Berhenti. Mandeg. Padahal kata teman saya kalau diketik pakai komputer pasti bagus. Semua orang bisa baca, kecuali yang buta huruf. Kalau tulis tangan bisa jadi jelek banget. He.. he..

Tetapi kalau rasa keberanian saya sedang menguat, saya biasanya protes, “Halah.., ge-er banget sih wong tulisan hanya dibaca sendiri saja kok pake malu segala. Nggak ada yang perhatiin tuh…” Biasanya kalau saya sudah berani protes, redaktur akan mengalah. Dan mau meng-klik kata SEND.

Kedua, “Jangan posting sembarang tulisan,” kata redaktur. “Apa kamu nggak ingat pesan beberapa orang di mana kamu mbe-guru itu. Apa kamu mau NABO (No Action Blog Only), NATO (No Action Talk Only), NAMO (No Action Mikir Only), NANO (No Action Nulis Only), NALO (No Action Learn Only) dan NA…, NA…, NA… yang lain…??”

Yang begini juga membuat aktivitas posting saya seret.

Memang saya ingin menjadikan blog ini bagian dari gerak perubahan saya. Seperti saya tulis dalam postingan sebelumnya tentang kosa kata dan definisi, ACTION termasuk salah satu kosa kata penting bagi saya. Dan saya ingin blog ini men-support ACTION saya.

Jadi kalau saya mau posting dan kemudian redaktur bilang, ”Ingat, jangan NABO …!” kayaknya postingan saya tertunda lagi.

Yang ketiga, ini bukan persayaratan redaktur. Tapi karena memang saya lagi malas posting… he..he.. Yang ini no komen.

Terima kasih Bang Izz telah meng-ece saya. Mudah-mudahan membuat saya semakin rajin posting. Artinya juga membuat saya rajin bikin ACTION.

[+/-] Selengkapnya...

Friday, January 23, 2009

Kosa Kata, Definisi, dan Kualitas Hidup

Sudah agak lama saya membuat pe-er untuk diri sendiri… pe-er yang ringan dan lucu.

Pertama, setiap akhir hari sebelum tidur menginventarisasi beberpa kosa kata yang paling sering saya gunakan dalam percakapan. Bukan hanya percakapan verbal saya dengan orang lain. Tetapi juga percakapan nonverbal saya. Percakapan dalam pikiran yang terjadi di dalam diri. Dan ternyata percakapan nonverbal saya jauh lebih banyak dibanding percakapan verbal saya. Mungkin benar hasil penelitian yang mengatakan bahwa dalam satu hari dalam pikiran manusia berseliweran lebih dari 65.000 pikiran.

Kemudian yang kedua, menemukan definisi dari kosa kata itu. Tentu bukan definisi menurut kamus umum atau Encarta atau Wikipedia atau yang lain. Kalau definisi menurut kamus, tentu nggak usah dicari. Tinggal buka saja atau search di internet akan ketemu.

Tetapi definisi kata menurut saya sendiri. Apa arti kata itu bagi saya. Boleh-boleh saja toh definisi saya berbeda dengan definisi menurut kamus umum. Wong definisi itu akan saya gunakan sendiri. Dan definisi menurut kamus umum kan hanya kesepakatan banyak orang atas kata itu. Nanti kalau saya mau berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain baru saya menggunakan definisi menurut kamus. Tetapi untuk saya, saya menggunakan definisi yang saya buat sendiri.

Dan tentu untuk Anda, anda juga bebas mendefinisikan kata untuk Anda sendiri. Nanti kalau Anda mau berkomunikasi dan berinteraksi dengan saya, mari sama-sama menggunakan definsi yang kita sepakati bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan kosa kata sama tetapi definisi yang berbeda tentu nggak connect.

Kembali kepada kosa kata dan definisinya. Menyadari bahwa saya bebas membuat definisi untuk saya sendiri maka saya bermain-main dengan definisi. Saya coba mengubah-ubah definisi kata-kata yang paling sering saya gunakan. Dan akhirnya saya menemukan korelasi antara kosa kata, definisi, dan kualitas hidup saya.

Ketika saya mengubah kata-kata yang sering saya gunakan dan kemudian mengubah definisinya, ternyata ada perubahan pada hidup saya. Hidup saya berubah, kondisinya berubah, dan situasinya juga berubah. Kadang-kadang membuat saya senang dan kadang-kadang membuat saya tidak senang. Tergantung bagaimana saya mendefinisikan kata itu.

Kalau Anda mau mencoba silakan. Ubah definisi kata-kata yang paling sering anda gunakan. Misalnya definisi hidup bagi anda, atau definisi kerja, saya, cinta, bisnis, kantor, uang, pasangan hidup, anak, orang tua, teman, …. Atau yang lain, terserah anda.

Misalnya tentang kata hidup. Apa definisi hidup bagi anda? Apa arti hidup ini bagi anda? Apa pikiran dan perasaan yang pertama kali muncul ketika anda mendengar kata hidup? Mungkin anda akan mengatakan hidup ini susah. Hidup ini menyenangkan. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah masa untuk dinikmati. Hidup ini keras. Hidup ini tidak adil. Hidup adalah kontribusi….., atau definisi lain. Terserah anda.

Coba lakukan definisi ulang kata tersebut dengan arti yang lain… dan rasakan perubahan yang terjadi pada hidup anda.

Lakukan untuk kata-kata kunci yang sering anda gunakan setiap hari… dan selamat mencoba.

Saya juga masih mengerjakannya. Dan juga mengerjakan pe-er berikutnya, menyesuaikan definisi yang saya buat dengan definisi dari Sang Pemberi Hidup.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, December 23, 2008

JEMBATAN BERJALAN

Jangan Anda membayangkan jembatannya punya kaki. Ini hanya pengalaman saya ketika saya sedang melaksanakan tugas kantor yang mengharuskan saya masuk ke hutan dan untuk sampai ke sana harus melewati sebuah jembatan. Jembatan kecil yang terbuat dari dua batang bambu yang diikat dan disatukan dengan kawat baja. Di sebelah kiri dan kanannya ada tali pegangan yang juga terbuat dari baja. Jembatan ini melintasi sungai yang cukup lebar, k.l. 50 meter, dengan aliran air yang lumayan deras.

Karena hanya terdiri dari dua batang bambu, ketika kami melintas di atas jembatan, mau tidak mau jembatan ini bergoyang. Kadang kiri – kanan, kadang atas – bawah. Ditambah hembusan angin yang cukup kencang yang mendorong badan menjadi tidak seimbang. Karenanya agar tidak terjatuh, mata jadi tertuju ke dua buah bambu yang jadi pijakan itu.

Tapi celaka, ketika kepala ini menunduk, bukannya bambu yang terlihat, tetapi fokus mata justru tertuju ke air sungai yang mengalir deras ke arah kanan saya. Dan goyangan jembatan semakin keras karena kaki tambah gemetaran. Dan jembatan yang semula diam, tiba-tiba mulai bergerak. Jembatan itu berjalan ke arah kiri. Semakin lama semakin cepat, secepat derasnya aliran sungai….

Jadilah jembatannya yang berjalan bukan airnya….dalam pandangan mata dan perasaan saya. Untung saya segera sadar sebelum terjatuh: yang berjalan airnya bukan jembatannya. Saya angkat padangan ke arah langit. Langit diam, tidak bergerak. Dan dengan segera jembatan menjadi diam…

Ternyata dalam keseharian sering saya jumpai pengalaman mirip jembatan berjalan ini. Dalam upaya berkontribusi dan berprestasi dalam kehidupan ini seringkali salah dalam melihat. Salah dalam memandang kejadian, peristiwa, fakta,…. Salah dalam memberikan arti dan makna. Dan akhirnya salah dalam mengambil tindakan…

Juga dalam upaya membangun bisnis. Dikatakan bahwa sembilan (belas?) pintu rezeki datang melalui bisnis dan yang satunya adalah menjadi pegawai. Tetapi ternyata banyak orang yang tidak bisa (atau tidak berani?) melihat dengan cara pandang ini. Dan tidak pernah kesampaian untuk memulai bisnis, dan tetap mencari rezeki dengan menjadi pegawai.

Mengapa? Karena yang terlihat adalah besarnya risiko yang menutupi besarnya rizqi yang datang lewat jalan bisnis itu.

Soo..jangan percaya jembatannya berjalan. Tetap semangat. Take Double Action.

[+/-] Selengkapnya...

Monday, December 22, 2008

HUJAN

Sudah beberapa hari ini Makassar, kota di mana saya mukim, diguyur hujan. Lumayan lebat. Kadang seharian matahari tidak kelihatan. Udara dingin. Sering mengganggu aktivitas…, berangkat ngantornya jadi telat. Apalagi memang sudah ada bakat-bakat malas ngantor. Jadi klop. Atau masalah klasik pada musim hujan: banjir. Karena got-gotnya tidak lancar. Entah karena mampet atau konstruksi gotnya yang tidak memungkinkan air mengalir.

Beberapa waktu sebelumnya situasinya berbeda 180 derajat. Panas. Kering. Debu yang cepat menebal di lantai depan rumah saya. Apalagi saya agak malas nyapu lantai. Mungkin dalam sehari dua hari ketebalan debu sudah bisa diukur dengan penggaris.

Belum lagi masalah klasik dari musim kemarau: kesulitan air bersih. Apalagi posisi rumah saya memang agak tinggi. Sehingga kalau musim kemarau agak berkepanjangan, rumah saya termasuk yang mendapat giliran awal tidak mendapat jatah air PDAM. Pasokan air melalui ledeng tersendat-sendat dan pada gilirannya macet. Untungnya saya tidak perlu membawa jerigen ke kantor PDAM terdekat ikutan ngantri ambil air minum. Karena dirumah saya ada sumur pompa. Tapi di musim kemarau kadang sumur pompa saya juga tidak sanggup lagi mengeluarkan air. Kering.

Tapi saya tidak sedang ingin membahas kesusahan musim hujan dan musim kemarau. Nanti ujung-ujungnya menjadi tidak bersyukur. Padahal saya sedang belajar menjadi orang yang mudah bersyukur.

Saya ingin membahas atap rumah saya yang bocor. Lho..!

Kalau hujan berkepanjangan begini, di plafon rumah saya air menetes di beberapa titik. Lagi, saya tidak ingin membahas tidak enaknya rumah bocor. Agar saya tidak menjadi orang yang tidak bersyukur.

Ketakjuban saya justru pada air yang jatuh lewat plafon atap saya yang bocor itu. Atap rumah saya yang memang sudah berumur tembus oleh kekuatan air. Padahal air itu hanya mengalir. Tidak memaksa membocorkan atap rumah. Tetapi karena ia senantiasa mengalir dan terus mengalir setiap musim hujan, maka akhirnya ia menembus dan membocorkan atap rumah. Itu kekuatan air yang senantiasa berada pada fitrahnya.

Ini mirip-mirip dengan rumput yang tumbuh di depan rumah saya. Ketika sedang kambuh rasa malas saya untuk memotong rumput, rumput yang kelihatan lemah dan tumbuh apa adanya, tanpa memaksakan diri mampu membuat plesteran semen halaman rumah saya retak-retak dan tumbuh dengan gagahnya. Itu kekuatan rumput yang hidup pada fitrahnya.

Saya justru terheran-heran dengan diri saya dan juga pada kebanyakan manusia. Makhluk yang dikaruniai kelebihan dari makhluk lain, tetapi justru kelebihan yang diberikan itu tidak membuatnya lebih unggul dan lebih baik dari air dan rumput. Kelebihannya, hati dan akal, yang ada padanya justru membuatnya semakin kerdil. Hati dan akalnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi justru menghacurkan dirinya.

Berapa banyak manusia yang berhenti berkembang karena tidak berfungsinya akal sebagaimana mestinya: khawatir akan masa depan, takut gagal, merasa tidak mampu karena banyak kebelumberhasilan dalam track record-nya, tidak sanggup menerima kritikan, …dll.

Manusia diciptakan untuk sukses, tetapi ia memprogram dirinya untuk gagal.

[+/-] Selengkapnya...